PENGURUS BESAR PGRI
ABSTRAK
PGRI berdiri setelah kemerdekaan Indonesia dimana semangat kemerdekaan
senantiasa mewarnai perjuangan PGRI. Organisasi PGRI ini sangat berperan
besar dalam meneruskan perjuangan rakyat Indonesia dalam membangun Negara
Indonesia dengan cara mencerdaskan rakyat Indonesia dalam bidang pendidikan
sehingga dapat lebih mempertahankan dan menyempurnakan republik Indonesia.
Dan organisasi PGRI selalu mensarkan diri pada aspirasi rakyatindonesia
serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kata kunci : PGRI, Kemerdekaan, Rakyat Indonesia.
A. PENDAHULUAN
PGRI lahir tanggal 25 November 1945, hanya berselelang tiga bulan setelah
kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.Semangat dan suasana batin perjuangan
kemerdekaan Indonesia turut membidani lahirnya PGRI.Pada perkembangan
selanjutnya semangat kemerdekaan itu senantiasa mewarnai perjuangan
PGRI.bertempat disekolah Guru Putri (SGP) Surakarta diselenggrakan Kongres
I PGRI dari tanggal 24-25 November 1945. Pada konngres itu disepakati
berdirinya PGRI sebagai wahana persatuan dan kesatuan segenap guru di
seluruh Indonesia. Pendirinya antara lain : Rh. Koesnan, Amin Singgih, Ali
marsaban, Djajeng Soegianto, Soemidi Adisasmito, Abdullah Noerbambang, dan
Soetono. Pada kongres itu dirumuskan tujuan PGRI, yaitu :
- mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
- mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan.
- membela hak dan nasib buruh pada umumnya, guru pada khusus (Suara Guru, November 1955; 17).
Kelahiran PGRI merupakan bagian integral perjuangan rakyat Indonesia dalam
merebut, menegakkan, menyelamatkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Wujud jati diri PGRI merupakan panggilan sejarah yang tumbuh sejak
Kebangkiatan Nasional, dalam membentuk penanaman kesadaran kebangsaan dan
nasionalisme lewat pengajaran. Dengan demikian, tujuan PGRI menunggal
dengan cita-cita bangsa dalam mewujudkan tujuan nasional, sebagaimana
tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Lembaga pendidikan PGRI merupakan organisasi profesi terkait dengan fungsi
keguruan yang berperan sebagai pendidik bangsa lewat pengajaran.PGRI juga
dalam hal mengabdi kepada masyarkat dan meningkatkan kualitas manusia
Indonesia, selalu mendasarkan diri pada aspirasi masyarakat serta tuntutan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
B. PEMBAHASAN
KONGRES I PGRI
Kongres I PGRI di laksanakan di Surakarta (Solo), Jawa Tengah pada tanggal 23-25 November 1945, dengan susunan PB sebagai berikut:
Ketua I : Amin Singgih
Ketua II : Rh.Koesnan
Ketua III : Soekitro
Penulis : Djajeng Soegianto
Bendahara : Siswowidjojo
Beberapa bulan kemudian Ketua I Amin Singgih di angkat sebagai Bupati Mangkunegaran, sehingga terpaksa di adakan perombakan susunan pengurus besar dengan formasi berikut:
Ketua I : Rh. Koesman
Penulis I : Sastrosoemarto
Penulis II : Kadjat Matosoebroto
Bendahara : Soemidi Adisasmito
KONGRES II PGRI
Kongres ke II PGRI di adakan di Surakarta (Solo) Jawa Tengah pada Tanggal 21-23 Desember 1946.
Melalui kongres ini PGRI mengajukan tuntutan kepada pemerintah yaitu:
- Sistim pendidikan selekasnya didasarkan pada kepentingan nasional.
- Gaji guru supaya tidak di hentikan.
- Di adakan Undang-Undang Pokok Perburuhan.
- Tuntutan tersebut mendapat perhatian pemertintah, terbukti dengan di tunjuknya Rh. Koesnan menjadi anggota Panatia Gaji Penerintah yang di bentuk oleh Departemen Kuangan RI.
Dari kongres tersebut komposisi PB sebagai berikut:
Ketua I : Rh. Koesnan
Ketua II : Soejono Kromodomejo
Ketua III : Soedjono
Karena Ketua I Rh. Koesman di tunjuk sebagai Mentri Social dan Perburuhan dalam Kabinet Hatta, maka KB di ubah menjadi; Ketua II Sowjono Kromodimuldjo menjadi Ketua I dan Ketua III Soedjono menjadi Ketua II, sedangkan Jabatan Ketua III di hapus.
KONGRES KE III PGRI
Kongres ke III PGRI di adakan di Madiun Jawa Timur pada Tanggal 27-29
Februari 1948, kongres yang di adakan dalam keadaan darurat ini antara lain
memutuskan bahawa untuk meningkatkan efektivitas organisasi di tenpuh
dengan jalan memekarkan cabang-cabang yang tadinya keresidanan mamiliki
satu cabang menjadi cabang-cabang yang lebih kecil, tetapi dengan jumlah
anggotanya 100 orang.
Susunan Kongres ke-III PGRI adalah sebagai berikut:
Ketua I : Soedjono kromodimoeldjo
Ketua II : Soedjono
Ketua III : Soedarsono
Pada akhir tahun 1948 s.d awal tahun 1949 dengan kembalinya kekuasaan
pemerintah RI ke Yogyakarta, maka kembali pula PGRI menggerakkan
organisasinya dan memindahkan kedudukan PB dari Solo ke Yogyakarta, dengan
susunan pengurus sebagai berukut:
Ketua Umum I : Soejono Kromodimejo
Ketua Umum II :Soedjono (Wk. PB di Jakarta)
Ketua Umum III : Soedarsono
Sekretaris Umum : Soekirno, Soebakti
Bendahara : Soewandi
KONGRES KE IV PGRI
Kongres ke IV yang berlangsung di Yogyakarta 26-28 februari 1950 ini,
memutuskan untuk mengeluarkan “Maklumat Persatuan” yang berisikan seruan
kepada masyarakat, khususnya kepada guru-guru, untuk membantu menghilangkan
suasana yang membahayakan dalam hubungan antara golongan” Non-“dan “Ko”
,dan menggalang persatuan demi perjuangan untuk mengisi kemerdakaan.
Ternyata “Maklumat Persatuan” ini mendapat perhatian dan penghargaan dari
kalangan luas termasuk Pemarintah.
Ketua I : Rh. Koesman
Ketua II : Soedjono
Ketua III : Soejono Kromodimoeljo
Rh. Koesnan dan Pengurus-Pengurus Besar lain berkedudukan di Yogyakarta,
Mereka secara bersama memelihara hubungan Jwa tengah. Jawa Timur dan
DIY.Mereka juga bertugas memelihara hubungan Jawa Barat, Sumatra,
Kalimantan Indonesi Timur, dan Sunda Kecil.
KONGRES KE V PGRI
Diadakan di Bandung pada tanggal 19-24 Desember 1950 tepatnya di Hotel
Savoy Homann, dan di buka oleh ketua PB PGRI Rh.KoesmanDalam Kongres ini di
bicarakan suatu masalah yang prinsipil dan fundamental bagi kehidupan
perkembangan PGRI selanjutnya yaitu asas organisasi ini.dan Pancasila di
terima sebagai asas organisasi. Selain itu di diskusikan pula bentuk
Pendidikan Guru KPKPKB (Kursus Pengantar Kepada Persiapan Kewjiban
Belajar), yang menurut peserta kongres tidak sesuai dengan upaya
peningkatan mutu Pendidikan Bangsa.Kongres juga menegaskan PB-PGRI dalam
waktu singkat melakukan usaha untuk menghilangkan perbedaan gaji antara
golongan “Non” dan “Ko”yang telah di tetapkan oleh pemerintah.Adapon
susunan PB nya ialah;
Ketua I : Soedjono
Ketua II : M.E.Subiadinata
Tugas PB yang di bebankan oleh Kongres seharusnya dapat di laksanakan oleh
PB yang lengkap,karena sampai 3 bulan susdah Kongres baru 9 orang yang
dapat berdomisilidi Jakarta.Komisariat-komisariat Daerah di bentuk pada
tahap pertama adalah untuk Daerah-daerah:
Sumatra Utara : T.Z.Answar
Sumatra Tengah : A.Manan
Sumatra Selatan : Noezoear
Jawa Barat : Jaman Soedjono Prawiro
Jawa Tengah : Soenarto
Yogyakarta : Moh.Djoemali
Jawa Timur : Soebandri
Sulawesi Selatan : A.N. Hardjarati
Jakarta Raya : Soemadi (Koordinaror)
Pada tahun 1952 terbentuk Komisariat Daerah yang baru yaitu:
Kalimantan : E.Simorangkir (digantikan Sjahran)
Sulawesi Utara : E.A.Parengkuan
Maluku : O.Nanulaita
Bali : Made Mendra
KONGRES KE VI PGRI
Kongres PGRI Ke VI berlangsung di Malang Jawa Timur 24-30 November 1952,
dalam Kongres ini menyapakati beberapa keputusan penting:
Dalam Bidang Organisasi, Kongres menetapkan bahawa asas PGRI ialah keadilan
sosial dan dasarnya adalah “Demokrasi”, dan PGRI tetap berada di bawah
GBSBI (Gabungan Serikat Buruh Indonesia). Dalam bidang perburuhan
diputuskan untuk memperjuangkan kendaraan bermotor bagi penilik sekoleh,
instruktur Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Masyarakat.
Dalam Bidang Pendidikan,di setujui agar :
(a) sisitim pengajaran di
selaraskan dengan kebutuhan Negara pada masa pembangunan,(b) KPKB(Kursuss Persamaan Kewajiban Belajar) di ubah menjadi SR 6 tahun
(c) KPKPKB di hapus pada ahir tahun 1952/1953
(d) Kursus B-I/B-II untuk pengadaan guru SLTP dan SLTA di atur sebaik-baiknya dan
(e) di adakan Hari Pendidikan Nasional.
Dalam Bidang Uumum, di sepakati supaya anggaran belanja Kementrian PP &
K di tingkatkan menjadi 25% dari seluruh anggaran belanja Negara dan agar
Jawatan PP & K di pusatkan sampai tingkat propinsi saja.Dalam Kongres
ini di syahkan pula “Mars PGRI” ciptaan Basoeki Endropranoto.
Ketua I : Soedjono
Ketua II : M.E.Subiadinata
Panitera Umum : Moehammad Hidajat
Tata Usaha : Soebandri
Panitera Pendidikan : Ktut Nara
Redaksi Majalah Suara Guru :Soeprdo, Soedjono Soebandri
Dalam Kongres ke VI ini NV harapan Mersra PGRI, mulai memberikan pertanggungjawabanya dan karena itu menjadi acara pembahasan pula.
KONGRES KE VII PGRI
Kongres ini di laksanakan di Semarang tepatnya di SMA-B Candi Semarang pada
tanggal 24 November s,d 1 Desembar 1954 dan di hadiri 639 0rang utusan dari
351 cabang yang menbawakan 1,414 suara dari 1.581 seluruh suara dalam
organisasi (89%). Untuk pertama kalinya Kongres ini di hadiri oleh
tamu-tamu dari luar nagri yaitu Maria Marchant, wakil FISE yang
berkedudukan di Paris , Marcelini Bausta dari PPTA Filipina mewakili WCTOP,
Fan Ming, Chang Chao dan Shen Pei Yung dari Serikat Buruh Pendidikan RRC.
Hasil Kongres ini antara lain;
Bidang Umum, Pernyataan mengenei Irian Barat, Pernyataan mengenei korupsi,
resolusi mengenei desentralisasi sekolah, mengenei pemakaian keuangan oleh
kementrian PP & K, dan mengenei penyempurnaan cara kerja Kementrian PP
& K ,
Bidang Pendidikan, resolusi mengenei anggaran belanja PP & K yang harus
mencapai 25% dari seluruh anggaran belanja Negara, mengenei UU Sekolah
Rakyat, dan UU Kewajiban Belajar,mengenei Film, iektur, gambar, serta radio
dan pembentukan Dewan Bahasa Nasional.
Empat orang formatur terdiri atas Soedjono (944 suara), M.E.Subiadinata
(784 suara), Hermanoe Adi (264 suara), dan Moehammad Hidajat (258 suara) di
pilih oleh Kongres untuk mekengkapi susunan PB berikut:
Ketua I : Soedjono
Ketua II : M.E.Subiadinata
Ketua III : Hermanoe Adi
Terjadi pergantian Komisaris Daerah dan penambahan Komisaris Daerah sebagai berikut:
Sumatra Utara : Idris M, Hutapea
Sumatra Tengah : Achmad Chatib
Sumatra Selatan : Madian
Jakarta Raya : Baheransjah Sutan Indera
Jawa Barat : M. Hosein
Jawa Tengah : Soenarto
Yogyakarta : Muh,Djumali
Jawa Timur : Hermanoe Adi
Kalimantan Barat : R.Sujo
Kalimantan Selatan : Sjahran
Sulawesi Utara : E,A Parengkuan
Sulawesi Selatan : J.E.Tatengken
Bali : Madae Mendra
Maluku : M.Ruhupatty
KONGRES KE VIII PGRI
Dilaksanakan di Bandung pada Oktober 1956, hampir di hadiri seluruh cabang
PGRI.Tetapi pemilihan ketua umum PB PGRI keadaan menjadi tegang , karena
pihak Soebandri dkk menambah kartu pemilihan (kartu palsu),sehingga
pemilihan tersebut harus di ulangi. Otak pemalsuan ini Hermanoe Adi, tokoh
PKI Jawa Timur yang saat itu menjabat Ketua II PB PGRI. Ahirnya yang
terpilih menjadi Ketua Umum PB PGRI ialah M.E.Subiadinata, menggantikan
Sudjono. Hermanoe Adi tidak legi di pilih menjadi ketua PB PGRI jabatanya
di gantikan oleh M. Husen yang sebelumnya menjabat Ketua PGRI Komisariat
Daerah Jawa Barat.Susunan PB-PGRI hasil Kongres ini sebagai berikut:
Ketua Umum : M.E.Subiadinata
Ketua I : Soedjono
Ketua II : M.Hosein
KONGRES KE IX PGRI
Berlangsung di Surabaya, pada Tanggal 31 Oktober-4 November 1959. Susunan PB PGRI sebagai berikut:
Ketua Umum : M.E Subiadinata
Ketua I : M. Hoesein
Ketua II : Soebandri
KONGRES KE X PGRI
Bertempat di Gelora Bung Karno Jakarta, Oktober 1962, periode tahun 1962-1965. PGRI mengalami masa sulit karena terjadinya perpecahan di dalam tubuh PGRI.Susunan PB PGRI masa perserikatan ke X Sebagai berikut:
Ketua Umum : M.E.Subiadinata
Ketua I : M.Hosein
Ketua II : Soebandri *)
Pada bulan Juni1964 Soebandri di pecat kerana terlibat dalam penghianatan /sparatis dengan mendirikan PGRI Non Vak sentral/PKI.pada bulan-bulan pertama kongres X mengalami kesulitan-kasulitan terutama keuangan, Setelah mengalami beberapa reshuffle, maka susunan PB PGRI berubah sebagai berikut:
Ketua Umum : M.E, Subiadinata
Ketua I : M.Hosein
Ketua II : –
Untuk menyelamatkan pendidikan dari ancaman dan perpecahan di kalangan guru Presidan Soekarno membentuk Majelis Pendidikan Nasional yang menerbitkan PenPres No.19 tahun 1965 tentang Pokok – pokok Sistim Pendidikan Nasional Pancasila sebagai hasil kerja dari Panetia Negara untuk penyempurnaan Sestem Pendidikan Pancawardhana.
KONGRES KE XI PGRI
Dilaksanakan di Bandung 15-20 Mart 1967, dengan susunan PB PGRI(1967-1970) sebagai berikut:
Ketua Umum : M.E,Subiadinata
Ketua I : Dra.Mien S. Warnaen
Ketua II : Maderman B.A.
Adapun hasil Kongres Ke XI antara lain:
Di bidang umum dan politik diantaranya sebagai berikut :
- Memenangkan perjuangan untuk menagakkan dan mengembangkan orde baru demi suksesnya Dwi Dharma dan Catur Karya Kabinet Ampera.
- Mendukung sepenuhnya keputusan dan ketetapan Sidang Umum Istimewa MPR.
- Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 45.
- Menjujung tinggi hak asasi manusia.
- Mengikis habis sisa-sisa Gestapu/PKI.
- PGRI Non Vaksentral, SSP, PGTI di nyatakan sebagai ormas terlarang karena merupakan ormas anthek PKI.
- Diaktifkanya kembali 27 pejabat kementrian P & K yang di pecat oleh, Prof. Prijono.
- Di setujuinya PGRI untuk bergabung dalam Sekber Golkar.
Di bidang organisasi antara lain:
- Konsolidasi pengembangan organisasi ke dalam dan ke luar untuk menciptakan kekompakan pada seluruh potensi kependidikan.
- Perubahab dan penyampurnaan AD/ART/PGRI yang sesuai dengan perkembangan politik Orde Baru.
- Perluasan keanggotaan PGRI dari guru TK sampai dengan dosen PT.
- Penentuan criteria/persyaratan pengurus PGRI mulai tingkat PB, PD, PC hingga Ranting.
- Intensivikasi penerangan tentang kegiata organisasi melalui pers, radio, TV, dan majalah Suara Guru.
- Pendidikan kader organisasi secara teratur dan berencana.
- PGRI menjadi anggota WCOTP (World Confederation of Organisation of Teaching Prifession).
- Menyatakan PGRI siap menjadi tuan rumah pelaksanaan Asian Regional Confrence (ARC WCOTP .
Pada tanggal 19 Desember 1969, ketua Umum PB PGRI M.E.Subiadinata wafat, di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,dengan inspektur upacara jendral TNI Abdil Haris nasution,sehingga Ketua Umum di gantikan oleh ketua I yang baru Slamet (1967-1970).
KONGRES KE XII PGRI
Kongres ke-XII PGRI kebali di gelar di Bandung 29 Juni-4 Juli 1970,dengan susunan PB PGRI (1970-1973) sebagai berikut:
Ketua Umum : Basyuni Suriamiharja
Ketua I : Slamet I*
Ketua II : maderman B.A*
Sekretaris Jendaral : AMD jusuf
Konpus II Tahun 1972 memutuskan bahwa susunan PB PGRI harus di sempurnakan di sebabkan oleh:
Ketua I Slamet pindah ke nagri Belanda, di gantikan oleh Ketua II Maderman.
Ketua II di isi oleh Drs.WDF Rindhorindo.
SekJen AMD Jusuf wafat di gantikan oleh M Hatta (sebelumnya menjabat Sekretaris Perburuhan).
Adapun keputusan-keputusan penting dari Kongres Ke XII PGRI sebagai berikut:
Perubahan struktur dan basis-basis organisasi PGRI, yaitu tngkat Cabang meliputi wilayah kabupaten/kotamadya, sedangkan wilayah Anak cabang adalah kecamatan.
Administrasi Organisasi di sederhanakan dan di seragankan untuk seluruh wilayah Indonesia.
Lambang PGRI dan Mars PGRI di lampirkan dalam buku AD/ART PGRI.
KONGRES KE XIII PGRI
Diselenggarakan di Jakarta 21-25 novenber 1973, Dengan susunan PB PGRI sebagai berikut:
Ketua Umum : Basyuni Suriamiharja
Ketua I : Prof. Dr.Wnarno Surakmad
Ketua II : DRS. Madorman.
Sekretaris Jendral : Drs. WDF Rindorindo
Dalam menjalankan tugasnya PB PGRI untuk pertama kalinya mendapat bimbingan
dari Dewan Pembina Pusat yakni Mentri Pendidikan Dan kebudayaan, Mentri
Dalam Negri, Mentri Agama, Dr.midian Sirait, Prof. Sadajoen Siswomartojo,
Prof. IP simanjuntak, M.A.AE Manihuruk.
Dalam Kongres ini di tetapkan perubahan-perubahan yang mendasar dalam
bidang prganisasi yaitu;berubahnya sifat PGRI dari organisasi serikat
pekerja menjadi organisasi Profesi, di tetapkanya Kode Etik Guru Indonesia,
Perubahan lambing panji Organisasi PGRI yang sesuai dengan organisasi
profesi guru, dan adanya Dewan Pembinaan PGRI.
KONGRES KE XIV PGRI
Diselenggarakan di Jakarta tanggal 26 – 30 Juni 1979,adapun susunan PB-PGRI (1979-1984) adalah sebagai berikut:
Ketua Umum : Basyuni Suriamiharja
Ketua : Prof.Dn Amran Halim
Wakil Ketua : Dra,Ny.M. Wahyudi
Wakil Ketua : Drs.Sudarmaji
Wakil Ketua : Drs.Aidil Fitrisyah
Sekretaris Jendral : Drs. WDF Rindorindo
Wakil SekJen : Mohammad Hatta
Kongres ini menghasilkan salah satu keputusan penting yaitu menganei
pendirian Wisma Guru yang di rencanakan berdirinya di Jl.Tanah Abang III
No.24 Jakarta Pusat ini sekaligus akan menjadi kantor PB PGRI. Kongres PGRI
ke XIV ini juga memutuskan dan menegaskan bahwa pembinaan lembaga
pendidikan PGRI perlu di lakukan secara konsepsional, nasional, dan
terkendali secara organisator.Untuk melaksanakan keputusan Kongres, PB PGRI
membentuk YPLP – PGRI DENGAN Akta Notaris Moh.Ali No.21 tanggal 31 Mart
1980 yang berlaku surat sejak 1 Januari 1980.Dengan SK PB PGRI
No.951/SK/PB/XIV?1980 tanggal 10 Oktober 1980 diangkat Pengurus Pusat
YPLP-PGRI yang pertama sebagai berikut:
Ketua : Slamet I
Wakil Ketua : Drs. Soepojo Padmodipuro
Sekretaris : Surdilani
KONGRES KE XV PGRI
Kongres berlangsung di Jakarta tanggal 16-21 Juli 1984,Kongres ini
menggariskan pokok-pokok PGRI untuk kurun waktu lima tahun mendatang
(1984-1989) yang meliputi: ruang lingkup pembinaan dan pengembangan
organisasi PGRI, tanggunb jawab dan peran PGRI dalam menyukseskan SU MPR
1983, Repelita IV dan Pancakrida Kabinet Pembangunan V.
Ketua Umum : Basyuni Suriamiharja
Ketua : Dr.Anwar Jasin, M.Ed
Ketua : Prof. Dr. Amran Halim
Ketua : Ny. M Wahyudi
Ketua : Drs. Is Riwidikdo
Ketua : Drs. I Gusti Agung Gde Oka
Ketua : Drs. Adil Fitrisyah
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,sebagai Ketua
Menteri Dalam Negeri , menteri Agama,Menteri Penerangan, Menteri Sosial,
ketua Umum DPP Golkar, AE.Mamehuruk, Dr. midian Sirait, dan, Prof. Dr.D.A ,
sebagai Anggota.
Sekreyaris Jendral PB-PGRI, sebagai Sekretaris.
Salah satu karya besar PGRI masa bhakti ke- XV adalah pembangunan Gedung
Guru Indonesia (GGI) di Jl.Tanah Abang III No.24 Jakarta, pelaksanaan
pembangunan di mulai 20 Mart 1986 dan di serahkan kepada PGRI pada 21 Mart
1987, kemudian di resmikan oleh Presiden Soeharto 21 April 1987.
KONGRES KE XVI PGRI.
Kongres PGRI Ke-XVI di adakan di Jakarta tanggal 3-8 Juli 1989, dengan susunan PB PGRI Masa Bhakti (1989-19941) sebagai berikut:
Pengurus Harian:
Ketua Umum : Basyuni Suriamiharja
Ketua : Drs. I Gusti Agung Gde Oka
Ketua : Dr. Anwar Jasin, M.Ed
Ketu : Dra. Mien S.Warnaen
Ketua : H.R taman sastrodikromo
Ketua : Taruna S.H.
Ketua : Drs. Sutrisno
KONGRES KE XVII PGRI
Kongres ke XVIII PGRI di selenggarakan di Jakarta tanggal 3-8 Juli 1994, dengan susunan PB PGRI (1994-1998) adalah sebagai berikut:
Ketua Umum : Basyumi Suriamiharja
Ketua : Drs. I Gusti Agung Gde Oka
Ketua : Dr. Anwar Jasin, M.Ed
Ketua : Dra. Mien S. Warnaen
Ketua : H.R. Taman Sastridokromo
Ketua : Taruna, S.H
Ketua : Prof. dr. Marsetio Danusaputro
Pertama kalinya Kongres PGRI ke XVII menetapkan dewan Pembina menjadi Dewan Penasehat dan tidak lagi ada Menteri yang menjadi anggota Dewan Penasehat.
KONGRES KE XVIII PGRI
Di selenggarakan di Lembang, Bandung tanggal 25-28 November 1998, dengan susunan PB PGRI masa bhakti (1998-2003), sebagai berikut:
Ketua Uumum : Prof.Dr. H Mohammad Surya
Ketua : Drs. H.Alwi Nurdin, MM
Ketua : Drs. WDF Rindorindo
Ketua : Drs. Soekarno
Ketua : Prof.Dr. Amran Halim
Ketua : Koesrin Wardojo, SIP, SH
Ketua : Dr.M. Ali, SH.Dipl.Ed,M.Sc
KONGRES KE XIX PGRI
Kongres PGRI ke XIX dilaksanakan di Semarang pada tanggal 8-12 Juli 2003 di Hotel Patra Jasa Semarang.Kongres ini diketuai oleh Prof. H. Muhammad Surya. Hasil kongres PGRI ke XIX sebagai berikut:
- Penegasan kembali PGRI sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi ketenagakerjaan.
- Diundangkannya UU Guru dan Dosen.
- Pengakuan Guru sebagai profesi oleh presiden pada tanggal 2 Desember 2004.
- Tuntutan anggaran pendidikan 20% berhasil dimenangkan dalam pengajuan melalui yudicial review di Mahkamah Konstitusi.
Hasil kongres XIX memilih 20-an orang untuk duduk dalam PB PGRI periode 2003-2008 adalah sebagai berikut:
Ketua Umum : Dr.H.Mohmmad Surya
Ketua : W.D.F. Rindo Rindo
Rusli Yunus
Ana Suhaina
Alwi Nurdin
Sekretaris Jenderal : Drs H Soemardi Thaher
Sekretaris Jenderal : Kusrin Wardoyo
KONGRES KE XX PGRI
Kongres PGRI ke XX ini diselenggarakan tanggal 30 Juni-4 Juli 2008 di
Novotel Hotel Palembang Sumut.Kongres PGRI XX dihadiri oleh Sutiyoso,
mantan Gubernur DKI Jakarta.Kongres PGRI hari ke-4 ini menghadirkan
Sutiyoso atau yang lebih dikenal dengan Bang Yos sebagai pembicara di
sidang paripurna VII. Dalam pembicaraannya, Bang Yos mengatakan bahwa
berdasarkan data dari BPS, di Indonesia ada sekitar 60% jumlah penduduk
merupakan penduduk yang hanya lulus SD. Dengan angka seperti itu Bang Yos
mempertanyakan kesiapan Indonesia menghadapi persaingan global. Sehingga
dengan keterbatasan tersebut banyak orang Indonesia yang mencari pekerjaan
di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga karena mempertimbangkan gaji
yang besar tanpa membutuhkan ijazah pendidikan yang tinggi.Sehingga dapat
dipastikan bangsa asing menilai harkat dan martabat bangsa Indonesia
rendah. Selain itu Bang Yos juga menambahkan bahwa Indonesia berada di
peringkat 133 dari 177 negara dalam Human Developement Indeks mengenai
kualitas dilihat dari aspek pendidikan, kesehatan dan penghasilan. Beliau
juga memaparkan suasana dan integritas pikiran menjadikan Indonesia yang
bermartabat.
Mendiknas memaparkan dengan berbagai dinamika dan problematika Guru, tentu
mendapat sambutan yang amat meriah dan saling berebutan untuk bisa
berbicara menyampaikan masalahnya kepada Menteri.
Ketua Umum : Dr. Sulistiyo, M.Pd.
Ketua : 1. Prof.Dr.Anah Suhaenah Soeparno
2.Prof.Dr.H.AgustitinSetyobudi,MM
Dr.Unifah Rosyidi, M.Pd
Drs. Sugito, M.Sc
Hambasi Abdullah
Drs.H.Dahri,MM
Sekretaris Jenderal : H. Sahiri Hermawan, SH, MH
Wakil Sekretaris Jenderal : 1. Dra. Harfini Suhardi
Drs.H.Giat Suwarno
Drs.Wahyo Pradono,MM
Bendahara : Drs. H. Sugiharto,MM
Wakil Bendahara : Drs. H. Muhir Subagia, MM
Organisasi dan Kaderisasi : Drs. M. H. Usman M.Pd
Keteranaga Kerjaan dan Kesra : Drs. H. Didi Suprijadi,MM.
Informasi &Komunikasi : Dr. M. Qudrat Nugraha, M.Si
Penelitian &Pengembangan : Dr. Mohammad Abduhzen, M.Hum
Pendidikan dan Pelatihan : Dra. Hj. Rachmawaty AR, MM
Hubungan Kerjasama Luar Negeri : Prof. Dr. H. Djam’an Satori, MA
Pembinaan Karier &Profesi : Dra. Opih Rofiah Zainal
Kerohanian : Drs.H.Malik Raden,MM.
Pemberdayaan Perempuan : Dr. Hj. Tjut Afrida, M.Pd
Pengmb. Kesenian dan Kebudayaan : Dr. Hj. Euis Karwati, M.Pd
Pengabdian Masyarakat : Dra. Hj. Maysari Berty
Advokasi & Perlindungan Hukum : Dra. Dian Mahsunah, M.Pd
Di teteapkan di Jakarta, 4 juli 2013, dengan susunan PB PGRI masa bhakti (2013-2018), sebagai berikut:
PENGURUS HARIAN
Ketua Umum :Dr. Sulistiyo, M.Pd
Ketua :Dr. Unifah Rosyidi, M. Pd
Ketua :Dr. H. Sugito, M. Si
Ketua :H. Sahiri Hermawan, S.H. M.H.
Ketua :Drs. H. Muh. Asmin, M. Pd
Ketua :Prof. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo, M.Pd
Ketua :Prof. Dr. Sudarwan Danim
Ketua : Dr. Didi Suprijadi, M.M.
Sekretaris Jenderal :M. Qudrat Nugraha, Ph. D
Wakil Sekretris Jenderal :Dra. Dian Mahsunah, M. Pd
Wakil Sekretris Jenderal : Dra. Hj. Farida Yusuf, M. Pd
Wakil Sekretaris Jenderal :Dr. Supardi, M. Pd
Wakil Sekretaris Jenderal : Dr. H. Hadi Tugur, M. Pd, M.M.
Bendahara :Prof. Dr. Dede Rosyada
Wakil Bendahara :Dr. Fathiaty Murtadho, M. Pd
SEKRETARIS DEPARTEMEN:
Organisasi dan Kaderisasi :Drs. H. Giat Suwarno
Kesejahteraan dan Ketenagakerjaan :Drs. Usman Tonda, S.H., M. Pd
Komunikasi dan Informasi :Dr. H. Basyaruddin Thoyib, M.Pd
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat :Dr. Mohammad Abduhzen, M.Hum
Pendidikan dan Pelatihan : Drs. Suharno, M. Sajim, M.M.
Hubungan Luar Negeri :Drs. Warnoto, M. Pd
Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru, :Dra. Hj. Rachmawaty AR, M.M.
Dosen, dan Tenaga Kependidikan
Pembinaan Mental dan Spiritual :Dr. H. Sastra Djuanda
Pemberdayaan Perempuan :Dra. Murniasih
Olahraga, Seni, dan Budaya :Dr. Hj. Euis Karwaty, M.Pd
Kerjasama dan Pengembangan Usaha :Drs. Wahyo Pradono, M.M.
Advokasi, Bantuan Hukum :H. Sibro Mulisi, B.A., S.Pd
dan Perlindungan Profesi
Penegakan Kode Etik : Dr. H. Muhir Subagja,M.M.
Pembinaan Karir Guru, Dosen, : Kadar, S. Pd, M. Pd
dan Tenaga Kependidikan
C. KESIMPULAN
- Pada kongres “pertama”membicarakan tetang disampaikannya tentang protes kepada seluruh dunia terhadap tindakan-tindakan tentara penduduk di indonesia dengan tujuan agar kongres pertama PGRI yang berlangsung 100 hari setelah kemerdekaan turut membantu membangkitkan semangat para guru, untuk memperkuat berdirinya republik Indonesia.
- Kongres “kedua”membicarakan tentang masa sulit yang turut menguji kebulatan tekad anak bangsa untuk mempertahankan kemerdekaannya termasuk para guru.
- Kongres “ketiga”pada kongres ini diangkatnya efektivitas organisasi.
- Kongres “keempat”Kongres ini PGRI mendapat pujian dari Presiden RI Assa’at.Menurutnya PGRI merupakan pencerminan semangat juang para guru sebagai pendidik rakyat dan bangsa.
- Kongres “Kelima”Membicarakan tetang konsolidasi organisasi mulai nyata lebih-lebih dalam pelaksanaan ART, komisariskomisaris daerah dibentuk serta susunan pengurusnya.
- Kongres “Keenam”disepakatinya beberapa keputusan penting dalam bidang organisasi.
- Kongres “Ketujuh”Dalam kongres ini dibicarakannya masalah urusan agama.
- Kongres “Kedelapan”Pada kongres ini disepakatinya beberapa keputusan penting dalam bidang organisasi.
- Kongres “Kesembilan”Dalam kongres ini ditarinya kembakli dukungan terhadap masalah PSPN ke dalam soksi akan keluar.
- Kongres “Kesepuluh”Pada masa kongres ini terjadinya perpecahan dalam tubuh PGRI.
- Kongres “Kesebelas”Dalam kongres ini ditegaskannya anggaran dasar sifat PGRI yang unitraristik, indevendent dan non partai politik.
- Kongres “Kedua belas”Pada kongres ini terjadinya perubahan struktur PB-PGRI.
- Kongres “Ketiga belas”Membicarakan tetang diangkatnya Drs. Rusli Yunus menjadi kepala sekolah RI di Tokyo.
- Kongres “Keempat belas”Ini PB-PGRI membentuk YPLP PGRI (Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan PGRI).
- Kongres “Kelima belas” Didirikannya proyek pelaksanaan Pembagunan GGI.
- Kongres “Keenambelas”Disusunnya PBPGRI masa bakti XVI (1989-1994).
- Kongres “Ketujuhbelas”Disusunya tim penulis buku sejara PGRI dari masa ke masa.
- Kongres “Kedelapanbelas”Dirubahnya susunan pengurus PB PGRI kalau pada masa lampau pemimpin selalu dipilih secara aklamasi kini mulai ada peraturan antara kedua calon ketua umum.
- Kongres ”Kesembilan belas”PGRI mendesak pemerintah untuk menindaklanjuti Undang-Undang (UU) tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dengan memberikan jaminan konstitusional bagi terselenggaranya pendidikan nasional.
- Kongres ”Kedua puluh” Ini memaparkan berbagai dinamika dan problematika guru di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar